Nyuwun Sewu….

Masih belajar…..harap maklum

LUGU (Lucu tur Wagu)

Teringat sebuah kenangan ketika dulu pertama kali naik pesawat ketika penempatan menjadi pegawai sebuah BUMN di sebuah kota kecil di bagian Indonesia Tengah. Aku dan temenku, sebut saja namanya Are Goes, ceritanya naik pesawat yang sama karena kebetulan tempat kantor kami nantinya berdekatan. Kami memang sangat dekat karena sewaktu kuliah pernah indekost satu kamar ditempatnya Nyak dan Babe warga betawi. Bahkan kami pernah makan sebungkus berdua. Karena sama-sama perantau kami memang biasa hidup ngere  prihatin sehingga kami merasa dekat karena senasib dan seperjuangan. Tibalah waktu wisuda dan kami harus berangkat menuju tempat tugas yang baru. Aku yang sebesar ini memang belum pernah naik kapal Ferry artinya ya ngublek aja di pulau jawa. Jadi memang ndeso dan katro bahkan gapin alias gagap informasi tentang daerah-daerah di luar pulau jawa. Begitu menerima SK pengangkatan dan kami harus ke luar jawa saya sempat bingung harus naik apa kesana. Walhasil, berkat bantuan kakak yang sempat kelimpungan cari informasi sana-sini ternyata kami harus naik pesawat dari Juanda menuju tempat tugas. Pas kami mau naik Merpati Nusantara Airlines dan aku lihat boarding pass kok gak ada nomor seat, aku pikir pasti ini seat pilih sendiri setelah berada di dalam kabin. Ternyata benar,kata mbak pramugarinya,” Silahkan mas pilih sendiri seatnya karena nggak pakai nomor”. Heran, naik Sinar Jaya Airlines saja yang cuma 7.500 saja waktu itu pakai nomor seat kok ini suruh pilih sendiri. “Bodo amat deh!’ pikirku dalam hati. Aku langsung saja cari dekat jendela sementara Are Goes temanku masih lihat sana sini. “Sini,duduk dekat aku aja!”, kataku memanggil temenku. Dalam penerbangan selama kurang lebih setengah jam menuju Ngurah Rai aku lihat penumpang yang lain pada tidur,kecuali aku dan temanku yang kedengaran paling ribut karena sibuk melihat keluar jendela. Penerbangan berikut menuju Selaparang kembali terjadi hal yang sama,kami duduk pada posisi yang sama walaupun sudah ganti pesawat yang lebih kecil. Sampai di terminal selaparang menunggu penerbangan terakhir menuju bandara tujuan aku lihat temanku mukanya masam. “Kenapa Goes mukamu kok kayak gitu?” aku bertanya heran.”Kamu curang, dua kali kamu duduk dekat jendela terus, nanti penerbangan berikut aku mau duduk dekat jendela!” temanku menjawab. Aku diam saja. Begitu ada panggilan dari petugas bandara agar segera naik pesawat, kami segera naik dan aku langsung duduk dekat jendela dan pura-pura ngantuk sehingga pura-pura nggak dengar gerutuan temanku yang pingin duduk dekat jendela. Walhasil, selama tiga kali penerbangan temanku nggak pernah duduk dekat jendela padahal dia sudah sangu kamera saku buat jepret sana jepret sini. Tapi walaupun begitu temanku masih sempat jepret beberapa kali. Tetapi setelah sampai tempat tujuan dongkol temanku sudah hilang dan terganti dengan kesibukan dengan tas bawaan kami. Beberapa minggu kemudian aku tanya temanku apa fotonya sudah dicetak. “Sudah, tapi gambarnya putih semua,polos nggak ada apa-apanya.” kata temanku. “Jelas aja gambarnya putih lha wong kamu fotonya pakai kamera gembol alias kamera saku”. Kalau mau foto dari atas pesawat ya harus pakai kamera yang canggih punya”. jawabku dan akhirnya kami cuma bisa tertawa…Oalah….maa…as…..mas,ini ndeso apa lugu?

Januari 1, 2008 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 7 Tanggapan

Table Mountain (Gunung Meja)

resize-of-resize-of-100_0185.jpgEntah kenapa, gunung yang berada di kota Ende (sebuah kota kabupaten di pulau Flores,NTT) dinamai gunung meja oleh masyarakat di sana. Mungkin karena bagian atasnya terlihat rata atau bagaimana…tetapi seingatku aku belum pernah melihat meja yang modelnya seperti gunung ini. Tetapi itulah adanya…di kota dimana Bung Karno pernah diasingkan oleh Belanda selama kurang lebih tiga tahun di tahun 1930-an, gunung ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan lokal yang suka mendaki karena pemandangan dari atas gunung terlihat sangat indah. Tapi yang pasti ketika merenungkan Pancasila, Bung Karno tidak di gunung ini tetapi dibawah pohon sukun di tempat situs Bung Karno yang sekarang jadi salah satu museum sejarah di kota Ende.

Oktober 27, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 2 Tanggapan

BALITA dan Tekhnologi

Jagoan kecilku,Arga, saat ini masuk usia 2 tahun 7 bulan, ketika di sebuah perjalanan, di dalam mobil, yang entah kenapa tiba-tiba berkata dengan suara cadelnya, “Bunda, belitan adek hape tatu ni (kamsudnya, Bunda, belikan adik hp satu ni). Aku sendiri yang saat itu duduk di jok depan langsung menoleh dan menjawab, “Oiya, nanti ayah belikan yang seperti kemarin yang bunyi tulit-tulit ya?”. Memang sebelumnya aku pernah belikan dia handphone mainan seharga goceng yang bisa bunya tulit-tulit.

Tapi apa jawab si kecilku? sambil senyum dan menunduk seperti orang menahan malu dia menjawab,” Mamau, mau yang cepeti punya ayah dan bunda” (kamsudnya, Nggak mau..mau yang seperti punya ayah dan bunda). Aku dan istriku kaget dan nggak nyangka balita seusianya sudah tahu minta dibelikan ponsel. Lha, nanti kalau sudah SD trus SMA mau seperti apa jenis permintaannya? Begitu cepatnya perkembangan tekhnologi dan begitu familiarnya tekhnologi dengan manusia sampai-sampai anak usia di bawah batita (bayi tiga tahun) saja sudah mulai mengerti dan bisa membedakan antara ponsel mainan dan ponsel sungguhan. Aku jadi ingat di tahun 1974-an ketika aku seusia anakku sekarang ini, saat itu aku cuma bisa main air, tanah, kotor-kotoran dan lari-larian. Televisi saja waktu itu di kampung yang punya masih satu-satu. Berarti, kira-kira di tahun 2040 manakala jagoan kecilku berusia sama dengan usiaku saat ini dan punya balita, permintaan dan pertanyaan apa yang bakal terlontar? Hanya waktu yang bisa menjawabnya……

Oktober 27, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

SMAN 1 Salaman

Tahun ini,2007, 17 tahun sudah kutinggalkan bangku SMAN 1 Salaman. Kala itu, di era 1987-1990 aku mengenyam masa-masa SMAku yang penuh canda tawa, rasa persahabatan dan kekeluargaan dari rekan-rekan dimana kami saling mengisi, saling berbagi…bahkan termasuk berbagi jawaban ketika ujian yang dalam bahasa spanyolnya (separuh nyolong) adalah nyontek. Maaf ya Pak Guru, kami dulu nyontek…tapi paling tidak itulah arti sebuah kebersamaan, arti sebuah pertemanan yang sebaiknya jangan dilestarikan karena resikonya ya…tahu sendirilah. Diusir dari kelas trus ditarik kertas ujiannya dan endingnya sudah jelas…NOL nilainya!!

Tujuh belas tahun sudah kutinggal masa-masa itu, gak tahu sudah kayak apa sekarang rekan-rekan yang dahulu sama-sama main bola, sama-sama jajan di kantin belakang kelas, sama-sama nyuri jambu di persil sebelah sekolah (wah kacau deh!). 17 tahun bukanlah waktu yang singkat, 17 tahun adalah sebuah rentang waktu dimana banyak sekali pengalaman hidup yang diperoleh yang tidak mungkin di dapat di bangku sekolah. 17 tahun adalah sebuah proses, dimana dulu kita masih remaja sekarang kebanyakan sudah menjadi orang tua, sudah punya momongan, sudah punya keluarga dan punya kehidupan masing-masing. Alangkah indahnya seandainya masa-masa itu bisa terulang kembali walau hanya sesaat. REUNI, hanya itulah kata yang bisa mempersatukan masa lampau, dimana kita bisa mengenal kembali wajah-wajah yang dulu lucu dan lugu mungkin sekarang sudah menjadi lebih dewasa, yang dulu ceking bisa jadi sekarang menjadi gemuk dan subur, yang dulu langsing sekarang langsung, yang dulu cantik dan ganteng sekarang tambah-tambah…wah, kalau ngebayangin pasti seru-seru.

SMA 1 Salaman, itu adalah nama sekarang. Dulu ketika kami bersekolah disana, masih mbubak hutan…maklum aku adalah angkatan ketiga di sekolah itu jadi waktu itu sekolah kami seperti berada di tengah rawa, lihat kanan kiri hanya ilalang dan pohon singkong yang ada. Waktu itu namanya SMA 1 (satu-satunya) di salaman karena memang kenyataannya cuma ada satu SMA di Salaman pada waktu itu. Tapi dengan keterbatasan yang ada kami tetap semangat dalam belajar dan aku tetap bangga dengan almamaterku yang sampai saat ini sudah menjebolkan 20 Angkatan.

Ketika saat REUNI tiba yang dimotori oleh teman-teman, diantaranya Budi Gendut (ha ha sorry ya Bud, habis kamu emang subur sih) yang sekarang jadi calon Kepsek,  Imara “Aang” Gumilar, yang sekarang sudah bertambah nama Tampubolon di belakangnya, Inug Nugroho yang sekarang jadi tukang tera ulang timbangan (he he kalau gak salah), jadilah tanggal 21 Oktober 2007 sebagai ajang temu kangen. Tapi sayang, aku sendiri tidak bisa hadir pada event itu karena kendala teknis…maklum Aku tinggalnya di Katimin (Kawasan Timur Indonesia) sehingga perlu perencanaan matang untuk bisa mudik. Tapi walaupun aku nggak bisa hadir aku cukup senang bisa mendengar suara teman-temanku dulu dan aku turut hanyut merasakan kebisingan hingar bingarnya suasana REUNI dari balik ponsel. Memang aku gak hadir tapi paling tidak rinduku telah sedikit terobati dengan adanya tekhnologi. Sekarang…para alumnus sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Oke, selamat berjuang kawan…kita pasti akan bertemu lagi dalam suasana yang lebih menyenangkan.

Oktober 22, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 19 Tanggapan

My Trip

resize-of-100_1487.JPGresize-of-100_1362.JPGresize-of-100_1350.JPGresize-of-100_1349.JPGresize-of-100_1334.JPGresize-of-100_1312.JPGresize-of-100_1307.JPGresize-of-100_1283.JPGresize-of-100_1273.JPGresize-of-100_1271.JPGresize-of-100_1258.JPGresize-of-100_1248.JPGresize-of-100_1225.JPGresize-of-100_1152.JPG resize-of-100_1187.JPGresize-of-100_1208.JPG

  

Oktober 4, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 1 Tanggapan

Katong samua basudara

resize-of-100_0891.jpgresize-of-100_1095.jpgresize-of-100_2003.jpgresize-of-100_1952.jpgresize-of-100_1967.jpgresize-of-100_1982.jpgBersama membuat orang menjadi berarti, kebersamaan adalah nafas kemasyarakatan.

Juli 4, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 1 Tanggapan

Di sini ku mengabdi

resize-of-100_1137.jpgresize-of-100_1133.jpgSebuah BUMN di sebuah kota kecil di Flores bagian timur. Jalan empat tahun sudah kujalani hidupku di kota ini. Di sini kubangun masa depanku, masa depan keluargaku.resize-of-100_1132.jpg Kewapante, sesuai dengan namanya, kota ini (lebih tepatnya disebut desa) berada di pesisir. Jaraknya hanya beberapa meter saja dari bibir pantai.resize-of-100_1134.jpg Sebagai kota perdagangan, sekitar Kantor adalah pasar mingguan dan Jumat adalah hari pasarnya.resize-of-100_1136.jpg

Juli 3, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

My Family in frame

resize-of-100_0654.jpgresize-of-100_0652.jpgresize-of-100_0997.jpgresize-of-100_0900.jpgresize-of-100_0490.jpgresize-of-100_0246.jpgresize-of-100_0240.jpgresize-of-100_0219.jpgresize-of-100_0216.jpgresize-of-100_0112.jpgresize-of-100_0040.jpg

Juli 2, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

My Pictures (2)

resize-of-100_0881.jpgresize-of-100_1035.jpgresize-of-100_0084.jpgresize-of-100_0211.jpgresize-of-100_0698.jpg

Juni 27, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | 1 Tanggapan

Orang Madura and the story

Sebenarnya cerita saya ini bukan untuk mendiskreditkan suku Madura (so…sebelumnya saya minta maaf ya?), tetapi dalam pergaulan saya dengan teman-teman yang berasal dari pulau garam itu menyimpan banyak sekali kenangan dan kisah serta cerita-cerita dari teman-teman Madura saya yang bisa menghilangkan rasa capek, jenuh serta bisa membuat suasana tegang menjadi ceria kembali. Ternyata cerita tentang madura selalu ada dan saya selalu tertawa manakala mengingatnya.

Madura di Kereta Api

Alkisah ada seorang Madura sedang naik kereta api. Sepanjang perjalanan dia mengeluarkan tangannya di jendela dan ini sudah ditegur oleh beberapa awak kereta karena membahayakan diri apabila tersambar kereta lain, tetapi peringatan itu tidak digubris. Dia tetap mengeluarkan tangannya, sehingga awak kereta melaporkan hal ini kepada masinis. Sang Masinis pun paham dan dia dekati si Madura sambil berkata pelan demikian.” Bapak, Bapak cinta dengan Indonesia kan?” tanya Masinis. “Oh! tentu saja dik, saya ini mantan pejuang lho?” Jawab si Madura sambil tangannya masih dikeluarkan dari jendela. “Jadi, kalau tangan Bapak dikeluarkan dan mengenai tiang listrik, maka tiang tersebut akan roboh, listrik padam, kota menjadi gelap dan negara akan dirugikan. Tentu Bapak tidak menginginkan itu kan?” tanya Masinis itu lagi. mendengar penjelasan tersebut si Madura segera menjawab, “Booo…,jadi begitu ya dik, kalau begitu tangan saya, saya masukkan saja ya.” katanya sambil memasukkan tangannya dari jendela.

Madura di Pesawat

Pak Brodin dari Pamekasan sedang naik pesawat dari Surabaya tujuan Jakarta. Dia membeli tiket ekonomi tetapi ketika naik pesawat dia duduk di kursi depan bagia eksekutif. Tentu saja hal ini ditegur sang pramugari. “Maaf Bapak, kursi Bapak ada di bagian belakang.” kata pramugari dengan ramah. “Booo….,tidak bisa dik, saya ini orang terkenal di kampung, setiap ada undangan saya pasti duduk di depan. Jadi sekarang saya mau duduk di depan.” jawab Pak Brodin dengan entengnya. Akhirnya pramugari melapor kepada Pilot tentang kejadian ini. Setelah pilot tahu bahwa Pak brodin dari Madura, dengan sabar ditanya.”Pak Brodin, maaf, Bapak mau kemana?”. “Saya mau ke Jakarta dik!” jawab Pak Brodin sambil melintir kumisnya.  Pilot kemudian berkata lagi,” Maaf Pak Brodin, kalau Bapak mau ke Jakarta kursinya di belakang, kursi depan untuk jurusan Bandung.”.”Ooo…begitu ya dik, kalau begitu saya pindah belakang saja ya.” jawab pak Brodin sambil beranjak dari kursinya.

Tukang buah Madura

Alkisah ada seorang Madura penjual semangka. “Semangka merah, semangka merah!” katanya berapi-api. Karena tawaran itu seorang ibu pun membelinya. “Berapa sebuah pak?” tanya Ibu itu. “Dua ribu saja Bu.” Ibu itu bertanya lagi,”Tapi isinya merah ya pak?” “Oooo…tentu saja Bu!” jawab penjual penuh yakin. Akhirnya ibu itu pulang dengan menumpang becak. Di tengah jalan becak tersenggol mobil dan oleng sehingga semangka yang dipegang si Ibu jatuh dan pecah. Sontak ibu itu kaget melihat semangkanya pecah namun yang lebih kaget ternyata warna semangkanya putih tidak merah seperti yangdipromosikan penjual. Dengan dongkol Ibu itu kembali ke penjual dan berkata.”Pak, Bapak nipu ya,kok semangkanya warnanya putih,tadi katanya merah?” penjual segera menjawab,”Lho, kok semangkanya pecah kenapa Bu?” “Tadi waktu naik becak kesenggol mobil sehingga jatuh,” jawab Ibu. “Booo…tentu saja semangkanya pucat Bu, wong jatuh begitu, Ibu saja kalau tertabrak mobil juga pasti pucat.” jawab penjual sekenanya. “Dasar Madura.” Ibu itu menggerutu.

Hujan dan Petir

Seorang Madura sedang kebelet pipis, sehingga dia lari ke belakang sebuah pos jaga dan kencing disana. Ketika kencing tanpa sengaja dia juga kentut. Satpam di pos jaga itu ketika tahu segera menegurnya.”Hoi, dasar nggak sopan sudah kencing sembarangan,kentut pula!” “Boo….gimana sampeyan ini, lha wong hujan saja juga ada petirnya.” jawab si Madura sambil berlalu.

Madura dan Kerbau

Seorang Madura menuntun belasan kerbau di tengah jalan di Surabaya, sehingga mengganggu lalu lintas. Polisi yang sedang bertugas langsung menghardiknya. “Hei! dasar Madura, sembarangan saja kalau menuntun kerbau!” si Madura segera menjawab.”Siap Pak! saya memang Madura, tapi kerbau-kerbau ini dari Jawa Pak!”.

Juni 27, 2007 Ditulis oleh gunajiawibowo | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan