Nyuwun Sewu….

Masih belajar…..harap maklum

Orang Madura and the story

Sebenarnya cerita saya ini bukan untuk mendiskreditkan suku Madura (so…sebelumnya saya minta maaf ya?), tetapi dalam pergaulan saya dengan teman-teman yang berasal dari pulau garam itu menyimpan banyak sekali kenangan dan kisah serta cerita-cerita dari teman-teman Madura saya yang bisa menghilangkan rasa capek, jenuh serta bisa membuat suasana tegang menjadi ceria kembali. Ternyata cerita tentang madura selalu ada dan saya selalu tertawa manakala mengingatnya.

Madura di Kereta Api

Alkisah ada seorang Madura sedang naik kereta api. Sepanjang perjalanan dia mengeluarkan tangannya di jendela dan ini sudah ditegur oleh beberapa awak kereta karena membahayakan diri apabila tersambar kereta lain, tetapi peringatan itu tidak digubris. Dia tetap mengeluarkan tangannya, sehingga awak kereta melaporkan hal ini kepada masinis. Sang Masinis pun paham dan dia dekati si Madura sambil berkata pelan demikian.” Bapak, Bapak cinta dengan Indonesia kan?” tanya Masinis. “Oh! tentu saja dik, saya ini mantan pejuang lho?” Jawab si Madura sambil tangannya masih dikeluarkan dari jendela. “Jadi, kalau tangan Bapak dikeluarkan dan mengenai tiang listrik, maka tiang tersebut akan roboh, listrik padam, kota menjadi gelap dan negara akan dirugikan. Tentu Bapak tidak menginginkan itu kan?” tanya Masinis itu lagi. mendengar penjelasan tersebut si Madura segera menjawab, “Booo…,jadi begitu ya dik, kalau begitu tangan saya, saya masukkan saja ya.” katanya sambil memasukkan tangannya dari jendela.

Madura di Pesawat

Pak Brodin dari Pamekasan sedang naik pesawat dari Surabaya tujuan Jakarta. Dia membeli tiket ekonomi tetapi ketika naik pesawat dia duduk di kursi depan bagia eksekutif. Tentu saja hal ini ditegur sang pramugari. “Maaf Bapak, kursi Bapak ada di bagian belakang.” kata pramugari dengan ramah. “Booo….,tidak bisa dik, saya ini orang terkenal di kampung, setiap ada undangan saya pasti duduk di depan. Jadi sekarang saya mau duduk di depan.” jawab Pak Brodin dengan entengnya. Akhirnya pramugari melapor kepada Pilot tentang kejadian ini. Setelah pilot tahu bahwa Pak brodin dari Madura, dengan sabar ditanya.”Pak Brodin, maaf, Bapak mau kemana?”. “Saya mau ke Jakarta dik!” jawab Pak Brodin sambil melintir kumisnya.  Pilot kemudian berkata lagi,” Maaf Pak Brodin, kalau Bapak mau ke Jakarta kursinya di belakang, kursi depan untuk jurusan Bandung.”.”Ooo…begitu ya dik, kalau begitu saya pindah belakang saja ya.” jawab pak Brodin sambil beranjak dari kursinya.

Tukang buah Madura

Alkisah ada seorang Madura penjual semangka. “Semangka merah, semangka merah!” katanya berapi-api. Karena tawaran itu seorang ibu pun membelinya. “Berapa sebuah pak?” tanya Ibu itu. “Dua ribu saja Bu.” Ibu itu bertanya lagi,”Tapi isinya merah ya pak?” “Oooo…tentu saja Bu!” jawab penjual penuh yakin. Akhirnya ibu itu pulang dengan menumpang becak. Di tengah jalan becak tersenggol mobil dan oleng sehingga semangka yang dipegang si Ibu jatuh dan pecah. Sontak ibu itu kaget melihat semangkanya pecah namun yang lebih kaget ternyata warna semangkanya putih tidak merah seperti yangdipromosikan penjual. Dengan dongkol Ibu itu kembali ke penjual dan berkata.”Pak, Bapak nipu ya,kok semangkanya warnanya putih,tadi katanya merah?” penjual segera menjawab,”Lho, kok semangkanya pecah kenapa Bu?” “Tadi waktu naik becak kesenggol mobil sehingga jatuh,” jawab Ibu. “Booo…tentu saja semangkanya pucat Bu, wong jatuh begitu, Ibu saja kalau tertabrak mobil juga pasti pucat.” jawab penjual sekenanya. “Dasar Madura.” Ibu itu menggerutu.

Hujan dan Petir

Seorang Madura sedang kebelet pipis, sehingga dia lari ke belakang sebuah pos jaga dan kencing disana. Ketika kencing tanpa sengaja dia juga kentut. Satpam di pos jaga itu ketika tahu segera menegurnya.”Hoi, dasar nggak sopan sudah kencing sembarangan,kentut pula!” “Boo….gimana sampeyan ini, lha wong hujan saja juga ada petirnya.” jawab si Madura sambil berlalu.

Madura dan Kerbau

Seorang Madura menuntun belasan kerbau di tengah jalan di Surabaya, sehingga mengganggu lalu lintas. Polisi yang sedang bertugas langsung menghardiknya. “Hei! dasar Madura, sembarangan saja kalau menuntun kerbau!” si Madura segera menjawab.”Siap Pak! saya memang Madura, tapi kerbau-kerbau ini dari Jawa Pak!”.

Juni 27, 2007 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.