Table Mountain (Gunung Meja)
Entah kenapa, gunung yang berada di kota Ende (sebuah kota kabupaten di pulau Flores,NTT) dinamai gunung meja oleh masyarakat di sana. Mungkin karena bagian atasnya terlihat rata atau bagaimana…tetapi seingatku aku belum pernah melihat meja yang modelnya seperti gunung ini. Tetapi itulah adanya…di kota dimana Bung Karno pernah diasingkan oleh Belanda selama kurang lebih tiga tahun di tahun 1930-an, gunung ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan lokal yang suka mendaki karena pemandangan dari atas gunung terlihat sangat indah. Tapi yang pasti ketika merenungkan Pancasila, Bung Karno tidak di gunung ini tetapi dibawah pohon sukun di tempat situs Bung Karno yang sekarang jadi salah satu museum sejarah di kota Ende.
BALITA dan Tekhnologi
Jagoan kecilku,Arga, saat ini masuk usia 2 tahun 7 bulan, ketika di sebuah perjalanan, di dalam mobil, yang entah kenapa tiba-tiba berkata dengan suara cadelnya, “Bunda, belitan adek hape tatu ni (kamsudnya, Bunda, belikan adik hp satu ni). Aku sendiri yang saat itu duduk di jok depan langsung menoleh dan menjawab, “Oiya, nanti ayah belikan yang seperti kemarin yang bunyi tulit-tulit ya?”. Memang sebelumnya aku pernah belikan dia handphone mainan seharga goceng yang bisa bunya tulit-tulit.
Tapi apa jawab si kecilku? sambil senyum dan menunduk seperti orang menahan malu dia menjawab,” Mamau, mau yang cepeti punya ayah dan bunda” (kamsudnya, Nggak mau..mau yang seperti punya ayah dan bunda). Aku dan istriku kaget dan nggak nyangka balita seusianya sudah tahu minta dibelikan ponsel. Lha, nanti kalau sudah SD trus SMA mau seperti apa jenis permintaannya? Begitu cepatnya perkembangan tekhnologi dan begitu familiarnya tekhnologi dengan manusia sampai-sampai anak usia di bawah batita (bayi tiga tahun) saja sudah mulai mengerti dan bisa membedakan antara ponsel mainan dan ponsel sungguhan. Aku jadi ingat di tahun 1974-an ketika aku seusia anakku sekarang ini, saat itu aku cuma bisa main air, tanah, kotor-kotoran dan lari-larian. Televisi saja waktu itu di kampung yang punya masih satu-satu. Berarti, kira-kira di tahun 2040 manakala jagoan kecilku berusia sama dengan usiaku saat ini dan punya balita, permintaan dan pertanyaan apa yang bakal terlontar? Hanya waktu yang bisa menjawabnya……
SMAN 1 Salaman
Tahun ini,2007, 17 tahun sudah kutinggalkan bangku SMAN 1 Salaman. Kala itu, di era 1987-1990 aku mengenyam masa-masa SMAku yang penuh canda tawa, rasa persahabatan dan kekeluargaan dari rekan-rekan dimana kami saling mengisi, saling berbagi…bahkan termasuk berbagi jawaban ketika ujian yang dalam bahasa spanyolnya (separuh nyolong) adalah nyontek. Maaf ya Pak Guru, kami dulu nyontek…tapi paling tidak itulah arti sebuah kebersamaan, arti sebuah pertemanan yang sebaiknya jangan dilestarikan karena resikonya ya…tahu sendirilah. Diusir dari kelas trus ditarik kertas ujiannya dan endingnya sudah jelas…NOL nilainya!!
Tujuh belas tahun sudah kutinggal masa-masa itu, gak tahu sudah kayak apa sekarang rekan-rekan yang dahulu sama-sama main bola, sama-sama jajan di kantin belakang kelas, sama-sama nyuri jambu di persil sebelah sekolah (wah kacau deh!). 17 tahun bukanlah waktu yang singkat, 17 tahun adalah sebuah rentang waktu dimana banyak sekali pengalaman hidup yang diperoleh yang tidak mungkin di dapat di bangku sekolah. 17 tahun adalah sebuah proses, dimana dulu kita masih remaja sekarang kebanyakan sudah menjadi orang tua, sudah punya momongan, sudah punya keluarga dan punya kehidupan masing-masing. Alangkah indahnya seandainya masa-masa itu bisa terulang kembali walau hanya sesaat. REUNI, hanya itulah kata yang bisa mempersatukan masa lampau, dimana kita bisa mengenal kembali wajah-wajah yang dulu lucu dan lugu mungkin sekarang sudah menjadi lebih dewasa, yang dulu ceking bisa jadi sekarang menjadi gemuk dan subur, yang dulu langsing sekarang langsung, yang dulu cantik dan ganteng sekarang tambah-tambah…wah, kalau ngebayangin pasti seru-seru.
SMA 1 Salaman, itu adalah nama sekarang. Dulu ketika kami bersekolah disana, masih mbubak hutan…maklum aku adalah angkatan ketiga di sekolah itu jadi waktu itu sekolah kami seperti berada di tengah rawa, lihat kanan kiri hanya ilalang dan pohon singkong yang ada. Waktu itu namanya SMA 1 (satu-satunya) di salaman karena memang kenyataannya cuma ada satu SMA di Salaman pada waktu itu. Tapi dengan keterbatasan yang ada kami tetap semangat dalam belajar dan aku tetap bangga dengan almamaterku yang sampai saat ini sudah menjebolkan 20 Angkatan.
Ketika saat REUNI tiba yang dimotori oleh teman-teman, diantaranya Budi Gendut (ha ha sorry ya Bud, habis kamu emang subur sih) yang sekarang jadi calon Kepsek, Imara “Aang” Gumilar, yang sekarang sudah bertambah nama Tampubolon di belakangnya, Inug Nugroho yang sekarang jadi tukang tera ulang timbangan (he he kalau gak salah), jadilah tanggal 21 Oktober 2007 sebagai ajang temu kangen. Tapi sayang, aku sendiri tidak bisa hadir pada event itu karena kendala teknis…maklum Aku tinggalnya di Katimin (Kawasan Timur Indonesia) sehingga perlu perencanaan matang untuk bisa mudik. Tapi walaupun aku nggak bisa hadir aku cukup senang bisa mendengar suara teman-temanku dulu dan aku turut hanyut merasakan kebisingan hingar bingarnya suasana REUNI dari balik ponsel. Memang aku gak hadir tapi paling tidak rinduku telah sedikit terobati dengan adanya tekhnologi. Sekarang…para alumnus sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Oke, selamat berjuang kawan…kita pasti akan bertemu lagi dalam suasana yang lebih menyenangkan.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Maret 2011 (1)
- Januari 2008 (1)
- Oktober 2007 (4)
- Juli 2007 (3)
- Juni 2007 (3)
- Mei 2007 (1)
- April 2007 (1)
- Maret 2007 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS